ARTIKEL DARI MICHAEL SUNGGIARDI:
3X Seminar Soal Pendidikan
Posted: 19/12/2007
Artikel berikut adalah tulisan teman saya, pak Michael Sunggiardi. Beliau adalah "biangnya" teknologi informasi kelas dunia. Beliau juga dulu yang mencetuskan Bogor sebagai CYBER CITY. Karena ulasan beliau yang sederhana dan masih berkaitan dengan pendidikan, makanya artikel ini kami muat. Berikut petikannya:
Celoteh opa Michael.
Selama sepuluh hari belakangan ini, sepertinya saya ngomong seperti kaset rusak, tentang dunia pendidikan, dampak negatif dan positifnya, serta penanganannya.
Dimulai dari Sekolah BPK Penabur di Tanjung Duren Jakarta, lalu di Stikom Surabaya dan terakhir di Diknas Makassar - semuanya topik menyerempet soal pemberdayaan teknologi komputer dan informasi untuk “meluruskan” dunia pendidikan anak-anak kita.
Dari hasil diskusi dan tanya-jawab, bisa diambil kesimpulan bahwasanya masyarakat Indonesia belum lepas dari kebingungan menghadapi perkembangan teknologi informasi dan komputer yang begitu cepat, sementara itu anak didik kita juga harus mengadaptasi kemajuan ini demi kehidupan mereka di masa mendatang.
Dengan keadaan yang self improvisation, akhirnya anak didik kita menjadi anak yang cuek, jutek dan tidak pernah mau menurut perkataan orang tuanya.
Sangat disayangkan, pemerintah begitu cueknya menghadapi semua kejadian ini, baik yang disebabkan oleh keterbatasan resource manusianya, maupun ketidak mampuan mengelola semua sistem yang sudah ada.
Akhirnya, sebagian besar anak didik kita menjadi orang yang cuek, mau enak sendiri, tidak kreatif dan tidak mau mendengar pendapat orang lain.
Dalam seminar bersama pakar keharmonisan keluarga, Pak Bambang Syumanjaya dari PT Konsultan Masa Depan, beliau mengungkapkan pentingnya pendekatan orang tua dan anak-anak, sehingga orang tua dapat menjadi Gerbang Teknologi untuk anak-anaknya.
Tapi kenyataannya, banyak sekali orang tua yang tidak mau perduli dengan perkembangan teknologi, sehingga akhirnya menjadi bumerang bagi mereka dan keluarganya.
Kesulitan mendidik anak-anak menjadi bertambah manakala para orang tua sudah tidak tau lagi harus berbuat apa terhadap semua kejadian yang belum pernah dialami oleh para orang tua tersebut.
Akhirnya …… dead end dan jalan sesukanya !
|