RUMAH AKAL Foundation memperoleh penghargaan MURI
Posted: 02/05/2008

Kementerian Negara Riset dan Teknologi bekerjasama dengan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) menyelenggarakan acara Penghargaan MURI Bidang IPTEK di ruang Komisi Utama Gedung BPPT II, pada hari Rabu 30 April 2008. Dalam acara ini Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman memberikan lima penghargaan kepada masing-masing Rekoris baru dalam bidang Iptek, mereka adalah :
- Ir. Bekti Hermawan, pendiri Rumah Akal Foundation, sebagai Penulis Buku dan Pengembang Software Matematika Ajaib
- Jacobus Busono, sebagai Kepeloporan Inovasi Iptek Bidang Industri
- Dr. Supeno Surya, sebagai Penemu dan Penulis Buku System Dioxin Free
- Castle Animation, sebagai Pengekspor Pertama produk Film Seri Animasi ke Eropa danUSA
- Cybermedia College, sebagai Sekolah Animasi 3-D Pertama di Indonesia.
 <Ir. Bekti Hermawan, pendiri Rumah Akal Foundation, bersama 5 rekoris Muri lainnya serta Menristek dan Jaya Suprana, Ketua Muri>
 <Ir. Bekti Hermawan saat berbincang dengan Jaya Suprana, sebelum acara penganugerahan Muri di mulai>
Tujuan penyelenggaraan acara ini adalah untuk memasyarakatkan Iptek dan memberikan kontribusi pemberian penghargaan kepada rekoris di bidang Iptek.
Dalam acara tersebut Kusmayanto Kadiman menekankan perlunya memberikan apresiasi yang besar kepada mereka yang telah berusaha membangun Legenda Hidup. Diharapkan melalui MURI kita dapat merombak paradigma Budaya Timur yang seringkali tidak merasa bangga atas prestasi yang dicapai oleh orang lain. Melalui MURI ini juga Penghargaan terhadap suatu prestasi seseorang tidak hanya diakui setelah orang tersebut wafat. Kusmayanto juga mengharapkan para rekoris dapat menjadi Role Mode bagi masyarakat Indonesia lainnya.
Sejalan dengan Kusmayanto Kadiman, Ketua MURI Jaya Suprana dalam konfrensi persnya menekankan bahwa perlulah bagi kita semua untuk menghargai jerih payah seseorang yang telah berusaha semaksimal mungkin untuk meraih penghargaan MURI ini, kerena dibalik sebuah pencapaian rekor tentu saja ada usaha keras.
Acara ini juga menampilkan kepiawaian Eko Ramaditya Adikara seorang penulis tuna netra yang mampu mengatasi keterbatasannya untuk berkomunikasi secara tertulis melalui media elektronik. Hal ini merupakan salah satu contoh bahwa IPTEK dapat membuat segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, serta membuat peradaban dan kebudayaan manusia lebih maju. (Humas Ristek)
Berita terkait:
http://www.ristek.go.id/index.php?mod=News&conf=v&id=2656
|