Rumah Akal Mathmagic And Science Club Rumah Akal Numbro™ - Koran Matematika Digital
   

NEWS DETAIL

Mengajar Akhlaq Qurani dengan Angka dan Bilangan
Posted: 03/06/2008

Seorang yang cerdas dengan ditandai tingkat IQ tinggi saja belum tentu bias sukses. Matang secara emosional (emotional quotion) pun demikian. Penelitian terkini menyebutkan ada satu lagi factor utama kesuksesan seseorang, yaitu adversity quotion.

 

AQ adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam mengatasi kesulitan dan sanggup untuk bertahan hidup. Dr. Paul G Stoltz dalam bukunya Adversity Quotion, menungkapkan beberapa fakta yang menunjukkan bahwa anak cerdas belum tentu sukses. Stoltz mencontohkan sebuah kasus seorang anak bernama Ted Kaczynski yang sangat cerdas, sehingga lulus dari Harvard University pada usia 20 tahun dan meraih doktor dalam ilmu matematika. Profesi sebagai dosen di Harvard ditinggalkannya ketika dia tertarik pada teknologi bom. Kejeniusan Kaczynski akhirnya membuat dia terpuruk di penjara karena dia membunuh  2 orang dan mencederai 22 orang lainnya dengan bom yang dia buat sendiri.

 

Selain itu, ada penelitian menunjukkan bahwa pemilik perusahaan umumnya adalah orang yang drop-out dari pendidikan, tetapi para eksekutif di bawahnya adalah mereka yang berpendidikan tinggi dan terpelajar. Stoltz menyimpulkan bahwa ada faktor lain yang berpengaruh dalam kesuksesan seseorang, yaitu AQ (Adversity Quotion).

 

AQ adalah salah satu kecerdasan lain selain IQ dan EQ yang turut menentukan kesuksesan seseorang. Singkatnya, AQ adalah daya juang atau kemampuan seseorang dalam mengatasi suatu permasalahan. Faktor dominan pembentuk AQ adalah sikap pantang menyerah. Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara menumbuhkan sikap pantang menyerah?

 

Menurut Dr. Paul G Stoltz, AQ dapat diasah melalui pola didik yang mendukung kemampuan AQ, yaitu pola pendidikan yang demokratis dan mengajak anak untuk berdialog sepanjang proses pembalajaran (pola pendidikan dua arah).

 

Kemudian, bagaimana pedoman teknis pola pendidikan yang demokratis dan dialogis ini dalam penerapannya? Di Bogor, ada satu keluarga yang memiliki pola belajar unik dan menarik. Bekti Hermawan, seorang alumnus IPB tahun 1991 mengembangkan metode belajar matematika dengan pendekatan akhlaq Qurani. Namanya Matematika Akhlaq.

 

Dalam proses belajar mengajar Matematika Akhlaq ini, selain menggunakan Al Qur’an sebagai pedoman belajar matematika, metode ini sudah dirasakan cukup untuk memenuhi factor pola pendidikan yang demokratis dan dialogis. Hermawan mengajarkan matematika kepada anak-anaknya dengan menggunakan Al Qur’an. Dan sebaliknya, Hermawan mengajarkan akhlaq Qurani dengan menggunakan ilmu matematika. Selain menjadi unik dan menarik, Matematika Akhlaq cukup memenuhi factor pendekatan IQ, EQ sekaligus AQ sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Pail G. Stoltz.

 

IQ, sudah jelas, setiap anak yang belajar Matematika Akhlaq akan mengalami peningkatan pengetahuan dan teknis dalam ber-matematika. EQ, seseorang akan mengalami kematangan emosional karena dalam mempelajari matematika digunakan pendekatan akhlaq Qurani. Dan AQ, sudah pasti tercakup dalam Matematika Akhlaq, karena metode Matematika Akhlaq disampaikan secara demokratis dan dialogis kepada setiap orang yang mempelajarinya. Anak-anak pun juga dapat mempelajarinya dengan mudah serta dapat secara langsung diterapkan guna membantu penyelesaian soal-soal matematika di sekolahnya.

Handayani
Rumah Akal

 

 
XXXX
Obat Ngantuk untuk bos MURI, Jaya Suprana
Ayo ke sarang kutu buku di Rumah Akal
More News

 

Home | Testimonial | Order | Member | Reseller | Opportunities | Contact Us
© 2006 - 2010 Rumah Akal - all rights reserved - Website developed by Focus Digital Design - Report Bugs & Errors