RUMAH AKAL "diganjar" sebagai pelestari budaya akhlaq!
Posted: 12/09/2008
JAKARTA (bisnis.com):

Ir. Bekti Hermawan [paling kiri] foto bersama Menbudpar bapak Jero Wacik [batik], Putu Wijaya [topi putih], Elvi Sukaesi [kerudung biru], Darwis Triadi [jaket hitam] dan rekoris lainnya sesaat setelah menerima piagam penghargaan MURI.
Sebanyak 18 tokoh dan budayawam menerima penghargaan dari Lembaga Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Ketua Umum Muri Jaya Suprana mengatakan ke 18 tokoh dan budayawan itu dianugerahi Penghargaan Muri atas prestasinya di bidangnya masing-masing terutama bidang budaya dan pelestarian.
Ke 18 tokoh itu a.l. budayawan Frans Magnis Suseno (rohaniwan pertama penulis kajian Marxisme), Adolf Heukens (penyusun ensiklopedia Pancasila pertama). Tokoh lain Santi Diansari Sarino (Ketua Teater Tanah Air), Jose Rizal (Sutradara Teater Tanah Air) dan Putu Wijaya (penulis teater). Selain itu, Martha Tilaar (pelestari budaya) dan ibu Sud (empu lagu Indonesia).
Penyerahan piagam penghargaan dari Muri kepada 18 tokoh dan budayawan ini akan diserahkan Menbudpar Jero Wacik sore ini di Gedung Sapta Pesona Depbudpar. (tw)
Di sisi lain, pendatang baru di bidang budaya dan pelestarian ini datang dari Bogor. Dia adalah Ir. Bekti Hermawan, pendiri Kelompok Belajar MATEMATIKA AKHLAQ - Rumah Akal Foundation. Berikut petikan wawancara pak Bekti dengan staff intern Depbudpar:

Ir. Bekti Hermawan sedang menerima piagam penghargaan MURI dari Menbudpar bapak Jero Wacik di Graha Sapta Pesona, Jakarta, 11 September 2008.
"Bagaimana perasaan anda menerima penghargaan MURI ini?"
"Tentunya sangat membahagiakan. Tapi ini baru langkah awal yang sangat berat."
"Kenapa begitu?"
"Terus terang, saya tadinya nggak nyangka kalau mendapatkan penghargaan MURI bidang budaya dan pelestarian. Pak Jaya Suprana menelpon saya 1 hari sebelum pelaksanaan penganugerahan piagam MURI. Beliau mengatakan ke saya bahwa saya menerima MURI bidang budaya dan pelestarian. Saya tanya lagi ke pak Jaya, kok bisa bidang itu? Beliau menjawab: Anda termasuk "orang langka" yang turut melestarikan budaya akhlaq baik untuk bangsa ini. Predikat ini sangat berat, mas!"
"Beratnya di mana?"
"Lho... mengajarkan akhlaq ke orang lain atau anak-anak itu mudah. Tapi, mengajarkan akhlaq kepada diri sendiri itu jauh lebih susah. Lha kalau kita diberi penghargaan sebagai pelestari budaya akhlaq baik... akhlaq kita sendiri bagaimana? Apa sudah di fit & proper test? Ha... ha... ha... di sinilah beratnya! Apalagi ketika pertama kami dirikan Kelompok Belajar Matematika Akhlaq ini... banyak sekali orang yang meremehkannya!"
"Apa yang sebenarnya anda lakukan hingga mendapatkan penghargaan ini? Bukankah di negeri ini banyak memiliki ustad yang bisa dibilang turut melestarikan akhlaq ummat?"
"Mungkin ustad sudah banyak ya? Atau mungkin juga kriterianya belum sesuai dengan yang ada di MURI. Pihak MURI lebih sesuai menjawab pertanyaan ini. Saya bersama istri dan teman-teman sejak 4 tahun yang lalu mendirikan Rumah Akal Foundation sebagai wadah kami berkreasi di bidang pendidikan. Salah satu unit kegiatan kami adalah Kelompok Belajar MATEMATIKA AKHLAQ yaitu suatu kelompok belajar akhlaqul karimah dengan memanfaatkan matematika sebagai media belajarnya. Unit kegiatan inilah yang mendapatkan penghargaan sebagai pelestari budaya akhlaq baik karena metode belajarnya unik dan belajar akhlaq tidak abstrak lagi. Ada-ada saja ya pak Jaya Suprana itu...!"
"Bisa anda berikan contoh bagaimana Matematika Akhlaq itu supaya lebih jelas?"
"Silahkan baca artikel saya yang ini sebagai contohnya (sambil memberikan artikel, para pembaca dapat klik disini untuk membacanya)."
"Saya lihat hari ini Prof. Dr. Frans Magnis Suseno, Putu Wijaya, Dewi Motik, Popy Darsono, Marta Tilaar, Darwis Triadi, Elvi Sukaesi dan beberapa tokoh budaya lainnya menerima penghargaan yang sama seperti anda. Apakah ini artinya anda bisa disejajarkan dengan tokoh-tokon tersebut?
"Ha.. ha.. ha.. Amien! Saya dan temen-temen nggak pernah berpikir ke arah sana mas, yang penting berkarya terus. Contohnya saja, Prof. Dr. Frans Magnis Suseno tidak tahu tentang Matematika Akhlaq dan apa perannya bagi bangsa. Sebaliknya, saya jauh tidak memahami apa yang dilakukan beliau dengan pemikirannya untuk bangsa ini. Jadi meski sama-sama di bidang budaya, fokusnya berbeda. Sehingga tidak bisa dibandingkan... he.. he.. Contoh lain, masa saya disejajarkan dengan ibu Marta Tilaar? Lha saya ini tahu apa tentang kecantikan he.. he.. he..!"
"Apa rencana anda dan Rumah Akal Foundation setelah menerima penghargaan ini?"
"The show must go on! Tantangan di depan masih perlu pemikiran dan realisasi. Jadi selain menjaga apa yang sudah kami raih, kerja keras dan cerdas tetap harus kami lakukan sepanjang hayat masih dikandung badan!"
"Ok pak Bekti, terimakasih atas waktunya. Sukses untuk anda selalu."
"Sama-sama..."
[Graha Sapta Pesona, Kamis 11 September 2008]
|