Obat Ngantuk untuk bos MURI, Jaya Suprana
Posted: 17/11/2008
Tidak semua orang bisa tidur nyenyak dengan mudah! Sebagian orang lagi
sangat mendambakan tidur nyenyak dengan mudah. Way out-nya apa? Apalagi
kalau bukan minum obat tidur! Jaya Suprana, bos MURI, sepertinya
termasuk orang yang mendambakan dapat tidur nyenyak dengan mudah. Tapi,
anehnya... beliau tidak mau obat tidur yang diminum atau ditelan! Nah
lho!

Jaya Suprana (kiri) di sela-sela penganugerahan piagam MURI untuk pak Bekti (kanan), masih sempat minta obat ngantuk!
Wah, pak Bekti juga bingung! Obat tidur yang gak usah diminum, menurut pak Bekti, ya matematika! Ha.. ha.. Ini dia obatnya:
"Pak Jaya, coba bapak hitung... ada berapa sih 25 dibagi 5 itu?"
"Ya tentunya 5 dong mas! Anda ini ada-ada saja!"
"Yang bener pak, masa 25 dibagi 5 sama dengan 5? Pak Jaya sekolah di mana sih SD-nya?"
"Ha.. ha.. Anda ngetes saya ya?"
"Bukan pak, bukan ngetes. Kan bapak sendiri yang minta obat ngantuk yang gak usah di minum."
"Iya, bener, mana obatnya?"
"Ya itu tadi pak... 25 dibagi 5 itu sama dengan berapa?"
"Sekali 5 ya tetap 5 mas jawabannya. Anda kok ngeyel."
"Bukan pak Jaya, 25 dibagi 5 itu sama dengan 14!"
"Lho kok bisa? Mas Bekti ini SD-nya lulusan mana?"
"Ha.. ha.. saya lulus SD berijasah kok pak. Gak usah khawatir. 25 dibagi 5 hasilnya 14. Bener pak! Mau buktinya?"
"Iya... gimana?"
Penjelasan pak Bekti:
Jika 25 : 5 = 14, itu kan sama artinya dengan 5 x 14 = 25. Gunakan
logika Aljabar ya... Kalau begitu 5 x 14 sesuai konsepnya adalah
14+14+14+14+14. Bener kan?
Kalau begitu ya silahkan tambahkan bilangannya mulai dari belakang
dulu. 4+4+4+4+4 aja sudah dapat 20. Lanjutkan dengan 1+1+1+1+1 = 5.
Jadi 20+5=25
Mudah bukan?
"Wah, anda ini nggak masuk akal. Masa 14+14+14+14+14=25."
"Lho... tadi itu kan buktinya pak?"
"Masa ngitungnya begitu? Apa anda nggak nyalahin aturan baku yang berlaku?"
"Ya nggak tho pak... lha wong ini kesepakatan kita berdua aja kok."
"Tapi saya nggak sepakat dengan anda."
"Lho? Kenapa begitu pak Jaya? Kita harus sepakat pak. Kalau nggak sepakat trus kenapa saya dianugerahi piagam MURI?"
"Waduh, bukan begitu maksudnya... bla bla bla bla bla!!" (Pak Jaya
Suprana menjelaskan panjang lebar kriteria penerima piagam MURI ke pak
Bekti sampai lama).
"Tapi kita tetap harus sepakat pak Jaya!"
"Nggak, saya nggak sepakat. Saya sudah jelaskan ke mas Bekti kriteria
penerima piagam MURI. Tapi saya tetap tidak sepakat dengan anda. Wis,
saya ngantuk menjelaskan hal ini berulang-ulang pada anda!"
"Ha... ha... akhirnya anda ngantuk juga ya pak Jaya? Padahal bapak kan
nggak minum obat tidur? Ternyata obat ngantuk 25:5=14 sangat manjur ya
pak?"
"He.. he.. he.. he.. !" (Pak Jaya tertawa nggak abis-abis!)
Selamat tidur. Zzzzzz...!
|